PERHATIAN : Program COACHING ini hanya untuk mereka yang ingin membangun Bisnis dan Kecerdasan Finansial untuk Kemakmuran.

Anda Ingin Berubah Menjadi Pribadi yang Lebih Sukses? Read This!

Posted by Asia Coach 13/12/2017 0 Comment(s)

Anda Ingin Berubah Menjadi Pribadi yang Lebih
Sukses? Read This!


Apakah Anda ingin melakukan proses perubahan menuju kehidupan
yang lebih baik? Melakukan perubahan perilaku (behavior change) agar
Anda tumbuh menjadi pribadi yang sukses nan sejahtera? Atau mungkin
Anda pengin melakukan proses perubahan agar kinerja perusahaan dan
organisasi Anda menjadi lebih kinclong. Melakukan proses
“organizational change” yang berhasil?
Tema tentang perubahan – baik dalam ranah personal ataupun
organisasional – telah lama menjadi topik hangat dalam jagat
manajemen. Cuma sialnya, banyak inisiatif perubahan (change
management) yang gagal dan nyungsep di tengah jalan, dan kemudian
kandas. Mengapa bisa seperti ini?
Dan apa yang mestinya didekap erat manakala kita hendak melakukan
proses perubahan yang berhasil – baik pada level personal ataupun
organizational?

Sejumlah pakar perilaku (behavioral expert) menyebut proses perubahan
acap menjadi tidak efektif lantaran diawali dengan pendekatan weaknessbased
orientation. Sering juga disebut sebagai problem-based
orientation. Maksudnya begini : inisiatif perubahan diawali dengan
premis bahwa ada yang “salah” dalam diri kita atau organisasi kita. Bahwa
diri kita atau organisasi kita memiliki banyak kekurangan (weakness) dan
problem.
Untuk itulah kemudian kita melakukan serangkaian action untuk
“mengobati” kelemahan itu, atau juga untuk mengobati problem yang
begitu banyak muncul di organisasi/perusahaan kita.
32
Pendekatan problem-based atau weakness-based ini begitu merasuk
dalam wacana manajemen selama ini. Begitulah kita lalu mengenai ilmu
problem solving skills, atau competency gap analysis, atau juga beragam
metode untuk menganalisa akar masalah (root cause problem analysis).
Semua metode ini berangkat dari premis yang tadi itu : bahwa ada
“kekurangan”, “penyakit” atau “problem” dalam diri kita atau organisasi
kita, dan kita harus mengobatinya.

Dan aha, sejumlah studi menunjukkan bahwa pendekatan semacam itu
acapkali tidak efektif dalam membawa keunggulan kinerja. Sebabnya
sederhana : pendekatan tersebut dengan mudah mendorong kita untuk
terjebak dalam negative mindset and culture. Kita menghabiskan energi
yang begitu banyak dan melelahkan untuk hanya berkutat pada
kekurangan, pada kelemahan, pada problem (masalah) yang seolah-olah
tak pernah kunjung selesai.
Pendekatan yang beorientasi pada problem dan weakness-based itu
dengan mudah juga akan membawa kultur pesimisme dan mendiscourage
semangat kita atau anggota tim. Kita atau anggota tim
pesimis sebab seolah-olah kita memiliki begitu banyak kelemahan, dan
organisasi kita penuh dengan problem/masalah. Dalam situasi ini, kita
dengan mudah kehilangan inspirasi dan motivasi.
Itulah kenapa kini muncul pendekatan yang secara radikal berbeda
dengan pendekatan diatas. Pendekatan baru ini acap disebut sebagai
strenghts-based orientation.

Prinsip dasar dari pendekatan ini adalah : kita akan berhasil menuju ke
arah yang lebih baik, jika inisiatif perubahan itu bertumpu pada kekuatan
yang telah kita miliki saat ini. Kuncinya adalah ini : focus on your
33
positive strenghts.
Jadi alih-alih menghabiskan energi untuk berfokus pada kekurangan
(ingat : competency gap analysis) atau pada problem organisasi, kita
justru harus mencari elemen kekuatan yang telah ada pada diri kita, atau
elemen positif yang telah hadir inside our organization. Alih-alih
menggunakan bahasa “root cause of problem”, kita harus menggunakan
frasa “root cause of success” untuk melacak kisah keberhasilan yang pasti
sudah pernah ada dalam organisasi kita.

Konkritnya : alih-alih meratapi kelemahan diri Anda terus menerus,
mengapa tidak mengingat apa kira-kira kekuatan (strenghts) yang ada
dalam diri Anda, atau pengalaman positif yang pernah Anda miliki (pasti
dong Anda punya kelebihan atau pengalaman positif). Nah, studi
menunjukkan bahwa kinerja individual akan jauh melesat jika kemudian
“poin-poin positive” yang sudah ada itu terus diakumulasi, diduplikasi
dan terus dimekarkan menuju titik yang optimal.
Dalam konteks organisasi, hal itu juga berlaku. Alih-alih sibuk
mendiagnosa problem yang ada dalam organissasi/perusahaan, dan
kemudian lelah mengobatinya, maka energi kita justru harus diarahkan
untuk menggali “momen-momen positif” atau “fitur kekuatan” yang telah
ada dalam organisasi. Lalu ciptakan serangkaian tindakan untuk
menduplikasi “momen positif” tersebut, dan terus tumbuhkan fitur
kekuatan yang telah ada menuju ke level yang makin maksimal.
Secara ekstrem pendekatan ini mau mengatakan hal seperti ini : forget
your weakness/problems, and just focus on your strenghts/positive
expectations. Find your positive areas and discover your bright spots.

Dan ajaibnya, beragam studi menunjukkan premis semacam itu ternyata
34
telah berhasil mengubah banyak individu dan organisasi melesat menjadi
lebih sukses.
Jadi mulai hari ini, jika Anda ingin menjadi pribadi yang lebih sukses,
selalu ingatlah kalimat ini : always, and always focus on your bright spots.

Sumber : www.strategimanajemen.net